Minggu, 16 Oktober 2016

GAWAT! TNI dan Rakyat, “Ayo Kita Bakar Saja Kantor Polisi”

GAWAT! TNI dan Rakyat, “Ayo Kita Bakar Saja Kantor Polisi”

Baca Juga

Sanking kesalnya, TNI dan rakyat yang emosi hampir membakar kantor polisi. Masalahnya berawal dari bentrok antara pemuda Kelurahan Toboko dan Kelurahan Kota Baru Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate Provinsi Maluku Utara (Malut) yang terjadi Minggu subuh.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua orang tewas dalam bentrok yang terjadi antara dua kelompok pemuda desa di jalan pantai reklamasi antara perbatasan Kelurahan Toboko dan Kota Baru, Ternate.


Tewas Ditembak Kepalanya dan Ditabrak mobil Polisi

Dua orang yang tewas itu adalah Dedi Ridwan, 29, warga Kelurahan Toboko dan Zulkifli Hamis, 24, warga Kelurahan Tanah Tinggi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Malut Pos (JPNN Group), Dedi tewas karena tertembak pistol anggota Polres Ternate yang berupaya mengamankan bentrok di bagian kepalanya. Sedangkan Zulkifli meregang nyawa karena ditabrak mobil dalmas.

Singkat cerita, pada Minggu sore sekitar pukul 16.00 kedua jenazah hendak diantarkan ke rumah keluarganya. Nah, iring-iringan massa yang dikawal personel TNI untuk mengantar dua jenazah itu pun melintas di depan Polres Ternate.

Saat melintas di depan kantor mapolres, massa pun secara membabi-buta melempari kantor polisi itu. Mereka sakit hati lantaran dua korban itu tewas karena ulah polisi.

TNI yang mengawal langsung menghentikan iring-iringan dan mencoba menenangkan massa yang terus melempari Mapolres Ternate.

“Kita bakar saja Polres”

Tidak terima, kantor mereka dilempari, puluhan anggota Dalmas Sabhara Polres Ternate berlarian keluar markas dan membalas aksi warga.

Pihak TNI pun berupaya menenangkan polisi-polisi itu. Hanya saja, upaya pihak TNI untuk memadamkan emosi personil polisi tidak diindakan. Bahkan salah seorang anggota TNI juga terkena lemparan batu yang dilakukan polisi.

Sontak, aksi polisi mengundang kemarahan anggota TNI. Dua dua institusai ini pun nyaris bentrok. “Kita bakar saja Polres,” teriak salah satu anggota TNI.

Beruntung, emosi dua intitusi ini berhasil diredam komandan lapangan masing-masing.

Indonesia Police Watch mendesak Komnas HAM dan Propam Polri menurunkan tim untuk mengusut kasus tewasnya dua warga saat terjadi bentrok di Ternate, Maluku Utara, Minggu (10/1). Seperti diketahui, dua orang yang tewas itu adalah Dedi Ridwan, 29, warga Kelurahan Toboko dan Zulkifli Hamis, 24, warga Kelurahan Tanah Tinggi.

Dedi diduga tewas karena kepalanya tertembak anggota Polres Ternate yang bertugas mengamankan bentrok dan Zulkifli tewas karena tergilas truk Dalmas. “Polri harus mengusut ulah anggotanya yang sudah menewaskan dua warga,” kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane.

Polisi Bertindak Brutal

Saat itu memang terjadi bentrokan antardua kelompok pemuda di Jalan Baru Toboko Pantai, Ternate. Sekitar 1 peleton anggota Polres Ternate pun dikerahkan untuk meredam bentrok. Entah mengapa, polisi yang mengamankan bertidak lebih brutal.

Selain dua orang meninggal, tiga orang lainnya mengalami luka-luka. Mereka adalah Nasrun, Fitra, dan Fadli. Akibat peristiwa ini warga memblokir kawasan itu sebagai protes terhadap ulah polisi yang melepaskan tembakan ke arah warga.

Warga juga sempat melihat ada sejumlah selongsong peluru di tempat kejadian. Namun Kapolres Ternate AKBP Kamal Bahtiar secara resmi mengatakan bahwa polisi di lapangan tidak ada yang menggunakan peluru tajam, aparat kepolisian hanya dipersenjatai peluru karet.

Dari pantauan, penanganan aksi massa yang menggunakan peluru karet sekali pun adalah tindakan yang melanggar Standar Operasional Polri. Sebab sesuai SOP, aksi massa harus dikendalikan sesuai tingkatannya, mulai dari negosiasi, penggunaan water cannon, gas air mata, dan terakhir peluru karet.

“Dalam kasus Ternate tidak ada penggunaan water cannon dan gas air mata, massa langsung dihadapi dengan tembakan,” kata Neta.

Sumber: ngobrol.top

Related Posts

GAWAT! TNI dan Rakyat, “Ayo Kita Bakar Saja Kantor Polisi”
4/ 5
Oleh