Jumat, 04 November 2016

Ramalan Jusuf Kalla: Jika Jokowi Jadi Presiden, Bisa Hancur Negara ini, Akhirnya Terbukti

Ramalan Jusuf Kalla: Jika Jokowi Jadi Presiden, Bisa Hancur Negara ini, Akhirnya Terbukti

Baca Juga

Ucapan terkenal Jusuf Kalla sebelum dipasangkan dengan Jokowi yang mengatakan,  “Bila Jokowi jadi Presiden, bisa hancur negara ini”, akhirnya terbukti. Indonesia, sebelumnya dan juga sampai sekarang, terkenal di dunia sebagai negara para mafia, negara koruptor, negara makelar, negara calo, negara bandit dan negara para juragan. Namun julukan negara semacam itu lama kelamaan mulai dihancurkan oleh Jokowi dengan watak kepala batunya (koppig)-nya.

Dengan kepala batunya, Jokowi mulai meruntuhkan negara yang hanya dimiliki para mafia, para koruptor, para makelar satu persatu. Jokowi tanpa takut, dengan tangan dingin mulai membangun negara baru dari remah-remah dan sisa-sisa sumber daya bangsa peninggalan rezim SBY yang terkenal dengan utangnya itu. Bersama rakyat yang sudah lama menderita, Jokowi mulai membangun harapan baru (new hope) di tengah-tengah kegelapan bangsanya.

Ramalan Jusuf Kalla: Jika Jokowi Jadi Presiden, Bisa Hancur Negara ini, Akhirnya Terbukti

Sekilas menengok ke belakang, saat Indonesia ditinggal oleh SBY, negara ini terlihat sangat sekarat. Pembangunan infrastruktur berjalan di tempat, harga-harga kebutuhan pangan naik dan dimainkan para mafia. Subsidi BBM hampir menyentuh angka Rp 300 Triliun, sangat memberatkan keuangan negara. Kebutuhan BBM semakin meningkat sementara para mafia migas setiap hari berpesta pora mengeruk keuntungan ratusan miliar rupiah.

Demi citranya dan mau lengser tanpa kegaduhan, SBY selalu menambah utang untuk menambal defisit APBN. Ini cara edan, masyarakat diajari konsumtif, tanpa berpikir produktif. Mereka diajari bak orang kaya, menambah hutang baru terus-menerus hanya demi mempertahankan gaya hidup. Alhasil, hutang kita semakin membesar, menggurita dan menyeramkan. SBY tak mau ambil pusing bahwa hutang itu kelak akan berdampak dahsyat. “Pokoknya di zaman saya, rakyat aman, dininabobokan dan citra saya tetap terjaga”, begitulah pikiran SBY.

Lalu kita berandai-andai. Bagaimana jika seandainya Prabowo yang menang dan menjadi Presiden sekarang ini? Jika seandainya Prabowo yang menjadi presiden, maka potensi negara menuju kebangkrutan sangat besar. Alasannya, para mafia, calo, makelar dan para pemburu rente semakin berjaya dan makmur. Tetapi sebaliknya, rakyat akan semakin menderita, pembangunan berjalan di tempat, bibit-bibit kerusahan sosial mulai akan terjadi di mana-mana. Kaum radikal berbaju agama akan memanfaatkan situasi itu dengan dibantu asing untuk menguasai kepemilikan sumber daya alam Indonesia. Potensi Indonesia menjadi negara bangkrut ala Yunani pun sudah di depan mata.

Bila melihat orang-orang yang bercokol di koalisi Prabowo, mulai dari Aburizal Bakri, Hatta Rajasa, Muhammad Reza Chalid, Nurdin Halid, Surya Dharma Ali dan seterusnya, maka jelas mereka adalah orang yang menumpang dengan watak rakus namun dengan wajah cantik. Sebagaimana tersingkap dalam rekaman, Reza dan Setya Novanto  akan terbang dan mulai menikmati investasinya dalam memenangkan Prabowo. Seperti yang diakui dalam rekaman itu, Muhammad Reza mengatakan bahwa ia telah menggelontorkan dana sebesar Rp 500 miliar  untuk membiayai kampanye Prabowo.

Tak terbayangkan jika Prabowo menang, maka Reza Chalid akan menjadi presiden sesungguhnya di negeri ini, presiden negara mafia yang tidak kelihatan namun sesungguhnya ada. Dia bersama rekan-rekannya  akan sangat mudah  mengendalikan Prabowo. Mereka terus memujanya,  mengangkatnya setinggi langit, memperlakukannya seperti raja. Dengan demikian, mereka pun tetap dalam situasi aman.
Tentu saja untuk melindungi para mafia,  kita akan melihat Prabowo melancarkan pidato-pidato ala Bung Karno yang menina-bobokan. Prabowo sambil berpidato akan  bersembunyi melalui retorika-retorika dahsyatnya yang senantiasa membicarakan kebocoran keuangan negara  dimana-mana. Prabowo mungin akan terus-menerus meniru Soekarno yang mencanangkan masa depan rakyat Indonesia yang akan menjadi macan Asia. Sementara itu, para penumpang gelapnya mulai membangun jalan-jalan tikus pengerukan kekayaan negara di mana-mana. Mereka membangun kemaharajaan mafia yang kuat, berakar dan bertahan hingga seratus tahun. Mereka akan berkamuflase, tidak terlihat  dan berlindung atas nama negara kesatuan Republik Indonesia.

Kelemahan sikap Prabowo karena sebelumnya telah disusupi oleh para penumpang gelap,  akan semakin menyuburkan ladang makelar, mafia, calo dan para pemburu  rente di antara keutuhan  negara. Dan mereka akan aman, karena mereka bisa berlindung di dalam parpol yang loyal kepada Prabowo. Tentus saja Prabowo juga akan loyal kepada mereka yang loyal kepadanya. Mereka pun bekerja sama dalam mengeruk kekayaan bangsa ini.  Hingga 50 tahun ke depan, Indonesia tidak maju-maju, tetap tertinggal dan asik dengan dunianya yang miskin.

Namun Tuhan yang di atas sana masih sayang bangsa ini. Ia mengirim Jokowi di tengah bangsa ini untuk menghancurkan negara mafia, koruptor, makelar yang telah mereka bentuk di atas penderitaan rakyat. Dengan kepala batunya (kopping), Jokowi tanpa mengenal takut memberantas para mafia ikan, mafia bola, mafia migas, mafia penyelundup, mafia daging sapi, ayam, gula, garam dan terakhir para mafia Freeport. Jokowi terus mengincar dan menghancurkan mereka para pendiri negara makelar, calo, pemburu rente hingga mendekati kehancurannya.

Harapan untuk menghancurkan negara mafia ala Jokowi semakin terbuka lebar berkat watak koppig-nya Jokowi. Hal itupun bukan hanya omong kosong, tetapi sudah dirasakan benar oleh Setya Novanto dan Muhammad Reza Chalid. Dalam rekaman Freeport yang telah diputar di MKD, disitu pengusaha Reza Chalid bercerita bagaimana koppig-nya Jokowi saat membekukan PSSI dan menolak pencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri. Dalam pertemuan dengan Mareof, Setya Novanto dan Reza Chalid saling berbagi pengalaman terkait koppignya Jokowi. Jokowi diceritakan bahwa pernah dimaki-maki oleh Megawati terkait penolakan Budi Gunawan.  Namun Jokowi tetap tenang dan berkepala batu menanggapinya. Itulah sebabnya, Novanto, Reza dan orang-orang dekat Jokowi harus bersattu meruntuhkan koppignya Jokowi.

Nah, watak berkepala batu Jokowi yang tidak mau tunduk kepada para mafia, makelar dan para koruptor itulah yang merupakan modal sangat besar dalam upaya menghancurkan negara mafia ala Reza Chalid dan Setya Novanto itu. Ke depan, rakyat semakin percaya kepada Jokowi dan bersatu menghancurkan para mafia di negeri ini. Jadi, ramalan Jusuf Kalla bahwa jika Jokowi jadi Presiden, bisa hancur bangsa ini, maksudnya hancur negara mafia ala Reza dan Novanto akhirnya menjadi kenyataan.

Selamat berkarya menghancurkan negara mafia, koruptor dan makelar, Pak Jokowi.
Salam Kompasiana,

Asaaro Lahagu

Related Posts

Ramalan Jusuf Kalla: Jika Jokowi Jadi Presiden, Bisa Hancur Negara ini, Akhirnya Terbukti
4/ 5
Oleh